Posts

Showing posts with the label Studi Negara

Kemerosotan Norma Keamanan Manusia dalam Kebijakan Imigrasi Australia Pasca-1992

Image
Tulisan ini sebelumnya telah dipublikasikan di Jurnal Hubungan Internasional Universitas Airlangga Vol. 11 No. 1, Tahun 2018 Kata ‘pengungsi’ baru pertama kali didefinisikan dalam sebuah hukum internasional melalui 1951 United Nations Convention Relating to the Status of Refugees (Konvensi PBB tentang Pengungsi Tahun 1951). Melalui konvensi ini, setiap pengungsi mendapatkan status dan juga hak-hak yang dijamin oleh hukum internasional. Hal ini dilandasi oleh tiga prinsip fundamental: (1) non-diskriminasi; (2) non-penalisasi; dan (3) non-pemulangan paksa. Konvensi ini kemudian ditandatangani oleh 26 negara yang menghadiri pertemuan ini, salah satunya adalah Australia.  Pada perkembangannya, Konvensi PBB Tahun 1951 berhasil mendapatkan penerimaan yang baik dari komunitas internasional dan telah diratifikasi oleh 145 negara per April 2015 (UNHCR, 2016). Asumsi awal yang dapat dihasilkan dari fakta ini adalah bahwa komunitas internasional telah mengakui hak pengungsi dan ...

Sampel Proposal Penelitian: Pengaruh Opini Publik terhadap Kebijakan Luar Negeri Israel di Bawah Kepemimpinan Benjamin Netanyahu

Image
A. Latar Belakang Masalah Israel merupakan negara yang lahir di tengah perebutan kekuasaan di kawasan Timur Tengah. Keberadaan Israel selalu dipermasalahkan oleh kekuatan-kekuatan besar di kawasan ini karena dianggap menempati teritori yang seharusnya bukan milik mereka. Orang-orang Arab yang merasa berhak atas tanah yang ditempati Israel pun memproklamirkan negara baru bernama Palestina yang didukung oleh negara-negara besar di Timur Tengah, seperti Mesir, Libya, dan Suriah (Smith, 2001). Pada perkembangannya, konflik Israel-Palestina di kawasan ini merambah ke luar kawasan dan mendorong keterlibatan kekuatan besar di tingkat global, seperti Amerika Serikat. Dalam hal ini, Amerika Serikat selalu memberikan komitmennya untuk mendukung keberadaan Israel di Timur Tengah melalui dukungan moril, ekonomi, dan bahkan militer. Akibatnya, konflik Israel-Palestina pun terus berlanjut hingga sekarang (Smith, 2001). Situasi panas yang dihadapi Israel dengan negara-negara tetangganya m...

Siapa Aku?: Ulasan Singkat Buku Asal Usul Kedaulatan

Image
Pernahkah kamu memandang cermin dan bertanya, "Siapa kamu?" pada sosok yang memandangmu dari balik kaca tersebut? Aku sering melakukannya, terutama akhir-akhir ini. Aku bisa bilang bahwa saat ini aku sedang berada pada titik dimana jati diriku telah terdefinisi dengan baik. Aku seorang laki-laki dewasa bergelar sarjana yang bekerja pada sebuah lembaga internasional ternama. Aku juga seorang kakak, seorang anak, seorang kekasih, seorang sahabat, seorang rekan, seorang gamer, dan sampai taraf tertentu seorang introvert. Aku mengenakan kemeja jeans seharga 300.000, sebuah celana bahan seharga 250.000, dan sebuah sepatu Pantofel seharga 2 Juta. Tidak terlalu mahal tapi juga tidak murah, ciri khas seorang kelas menengah pada umumnya. Ya, aku adalah seorang manusia pekerja kelas menengah. Semua identitas-identitas itu melekat padaku dan mendefinisikanku. Problemnya adalah, apakah benar itu adalah aku? Ambil seluruh pakaian yang melekat padaku dan suruh aku berjalan di tempa...

Calon dan Kriteria Negara Maju di Kawasan Asia (Kriteria 4: Sifat Pragmatis)

Image
Pragmatisme adalah sebuah filsafat yang berasal dari Amerika yang berkembang pesat pada masa Pra-Perang Dunia. William James, dalam essay-nya di tahun 1907 yang berjudul “What Pragmatism Means” memberikan sebuah anekdot untuk menjelaskan bagaimana pragmatisme bekerja sebagai penginterpretasi dari interpretasi. Anekdotnya adalah sebagai berikut: sekelompok anak sedang berkemah, termasuk James, mengamati seekor tupai yang berada di atas dahan pohon dan seorang pria yang mengamati tupai tersebut di seberang pohon. Berusaha untuk melihat Tupai itu secara langsung, pria tersebut bergerak mengelilingi pohon, namun menemukan bahwa si tupai selalu menjaga pohon tersebut berada di antara dirinya dan sang pria. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan di antara anak-anak yang berkemah, “Apakah sang pria mengelilingi si tupai atau tidak? Pria tersebut memang mengelilingi pohon, tapi apakah dia mengelilingi si tupai?”

Awal dari Kejatuhan: Perkembangan Diskursus Anti-Komunisme di Ruang Publik Vietnam Pasca-Doi Moi

Image
Komunisme telah gagal di Vietnam. Begitulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan oleh Pangeran Nguyen Phuc Buu Chanh, seorang bangsawan dari Dinasti Nguyen, dalam press release-nya pada 14 November 2004 yang berjudul The Failure of Communism in Vietnam. Pangeran Nguyen, dalam press release tersebut, menekankan bahwa komunis telah gagal memenuhi janjinya untuk menciptakan masa depan dimana rakyat akan berkuasa, bebas, dan hidup makmur di dalam surga komunal. Bukannya memberikan surga komunal, komunis justru menciptakan sebuah negara yang dikuasai hanya oleh elit partai, tidak memiliki kebebasan, dan tidak menjamin hak-hak warga. Lebih lagi, komunis juga telah merampas kebudayaan tradisional Vietnam dan memaksa masyarakat untuk menerima kebudayaan komunis. Menyikapi hal ini, Pangerang Nguyen menyuarakan bahwa semua orang yang merasa bebas harus mengutuk pemerintahan Vietnam yang membiarkan hal tersebut terjadi. Hal yang sama juga dikatakan oleh Tran Bach Dang, seorang pejabat komuni...

Bagaimana Musisi Punk dapat Menjadi Panglima Pengawal Demokrasi Baru Myanmar

Image
Dalam berita yang dituliskan oleh Robin McDowell dalam Huffington Post (Radical Monks Criticized By Punks In Myanmar As Religious Attacks Escalate, 5 Agustus 2013), dituliskan bahwa semenjak berakhirnya junta militer di Myanmar yang ditandai dengan adanya parlemen yang diwakili oleh rakyat dan dibebaskannya Aung San Suu Kyi dari tahanan rumahnya, Myanmar mulai merasakan kebebasan untuk berkumpul, kebebasan pers, dan tentunya kebebasan untuk berbicara. Sayangnya, kebebasan berbicara di Myanmar lebih banyak digunakan oleh rahib-rahib Buddha radikal untuk membuat pernyataan yang bersifat diskriminatif terhadap umat Muslim. Mayoritas orang Myanmar lebih memilih untuk diam menghadapi seruan-seruan para rahib radikal ini, karena rahib merupakan orang dengan strata sosial yang cukup tinggi di Myanmar. Hanya anak-anak Punk yang mulai berani untuk membalas seruan diskriminatif para rahib radikal tersebut.

Kerajaan Tonga

Image
Di sebuah tempat di Samudera Pasifik Selatan yang jaraknya ribuan mil dari Bagian paling timur Australia, terdapat 176 gugus pulau yang dihuni oleh 103,000. Di sana terdapat sebuah Monarki yang telah berdiri berabad-abad lamanya dan kini telah menyesuaikan diri dengan abad demokratisasi hingga menjadi sebuah Monarki Konstitusional dan telah diakui sebagai sebuah negara berdaulat yang telah mampu memakmurkan penduduknya hingga tingkat melek huruf di sana mencapai 98.9%. Negara tersebut bernama Tonga.