Posts

Showing posts with the label Capitalism

Max Lane: The Impossibility of Citizenship

Image
(This article is an edited transcript of Dr. Max Lane's lecture at International Workshop on Power, Conflict & Democracy 2018 in Yogyakarta, 26-28 October 2018) The increased discussion on citizenship is the idea that transition to democracy is either taking place or has taking place. Several key advances in the transition from dictatorship to democracy after 1998: (1) there is a systematic armed coercion in political life; (2) there is increased freedom of speech and criticism (although there are some limitation, e.g. Marxism banned, advocacy of 80ism is still banned); (3) there is extended participation in election (but some limitation for certain ideology). Parliament also making it more and more difficult for new party to participate in election. We now has a system where government is formed on the basis of popular election. The New Order's election did not really decide who will govern but then Habibie's government allows the freedom of association (trad...

Globalisasi, Kapitalisme dan Ekonomi Internasional

Image
Globalisasi banyak disebut-sebut sebagai pemantik ekonomi internasional. Melemahnya demarkasi antarnegara mendorong terciptanya perpindahan barang dan manusia secara bebas. Pada saat yang sama, aliran modal menjadi dapat mengalir bebas ke bank-bank di seluruh dunia. Hiperglobalis secara umum merayakan fakta ini. Kenichi Ohmae, sebagai contoh, menyatakan bahwa ekonomi dunia tidak pernah lebih baik setelah merebaknya globalisasi. Tidak hanya akan meningkatkan perekonomian setiap negara di dunia secara drastis, globalisasi juga diprediksi akan menggiring dunia ke arah perdamaian dimana perdagangan internasional menjadi norma utama yang berlaku. [1] Optimisme semacam ini tentu terasa menyegarkan, namun cenderung membutakan kita dari berbagai konsekuensi mengerikan yang globalisasi dapat timbulkan. Pertanyaan pertama yang harus diajukan untuk menyerang argumen hiperglobalis adalah: apakah peningkatan ekonomi internasional tersebut akan terdistribusi merata ke setiap manusia di penjuru ...

Blood Diamond: Refleksi KAA 1955 dalam Konflik Berdarah Berlian Sierra Leone

Image
Tulisan ini merupakan resume dari diskusi film "Blood Diamond" yang dilaksanakan oleh HIMAHI Paramadina pada 18 April 2013 18 April, 59 tahun yang lalu, sebuah konferensi yang dihadiri oleh 29 negara, yang mewakili lebih dari separuh penduduk dunia, digelar di Bandung, Indonesia. Pada pertemuan yang dinamai Konferensi Asia-Afrika (KAA) tersebut, Presiden Soekarno telah menyerukan kepada seluruh negara di Asia dan Afrika untuk menyatukan sikap melawan imperialisme Barat. Pada pertemuan tersebut, Indonesia telah menginjeksikan sebuah mimpi kepada bangsa-bangsa yang pernah tertindas bahwa mereka semua mampu menjadi bangsa yang besar, sejajar dengan negara-negara Barat yang pernah menindas mereka. Seharusnya, KAA dapat menjadi langkah awal untuk mewujudkan mimpi tersebut. Namun, 59 tahun telah berlalu, dan mimpi yang dibangun dalam KAA 1955 tetap menjadi mimpi. Pada hari ini, kita dapat melihat bahwa bangsa-bangsa Asia dan Afrika masih dilanda perpecahan. Di Asia, perpecaha...

Calon dan Kriteria Negara Maju di Kawasan Asia (Kriteria 1: Penerapan Pasar Bebas)

Image
Pada tahun 1680, Jean-Baptiste Colbert, Menteri Keuangan Perancis pada masa tersebut sedang berdialog dengan perkumpulan pebisnis Perancis. Ketika itu Jean-Baptiste bertanya pada para pebisnis tersebut, “Apa yang dapat saya lakukan untuk Anda?” Joel Le Gendre, perwakilan para pebisnis Perancis tersebut menjawab, “Apa yang dapat Anda lakukan untuk kami? Biarkan kami (Laissez-nous faire)!” Percakapan itulah yang menginspirasi Adam Smith untuk merumuskan sistem ekonomi laissez-laire dalam bukunya The Wealth of Nation, atau yang lebih dikenal dengan sebutan sistem pasar bebas.

Laporan Pertemuan Serikat Petani Indonesia

Image
Hari Rabu, 11 September 2013 lalu, aku diajak oleh dosenku untuk menghadiri pertemuan Serikat Petani Indonesia (SPI) untuk melihat presentasi hasil penelitian sementara Jaringan Riset Kolektif (JeRK) kepada para petani-petani seluruh Indonesia. Ruang pertemuan tersebut lebih kecil dari yang aku bayangkan dan memiliki desain yang aneh. Satu sisi ruangan tersebut didesain seperti ruangan umum (kotak dan berwarna putih), namun di sisi lain ruangan tersebut didesain seperti ruangan ala gedung-gedung di masa Yunani Kuno, lengkap dengan pilar putih yang menjulangnya. Begitu aku masuk, presentasi sudah dimulai, namun masih giliran presentasi dari seorang perwakilan petani yang berasal dari Korea Selatan, bernama Madam Joon. Sungguh awkward rasanya melihat pembicaraan Madam Joon yang harus ditranslate dua kali. Pertama, bahasa Korea yang disampaikan Madam Joon diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh seorang penerjemah yang juga berasal dari Korsel. Kedua, bahasa Inggris yang diterjemahkan p...

Mengapa Paus Francis Tidak Begitu Bijak: Hubungan Kapitalisme-Agama dan Implikasinya

Image
Pada tanggal 17 Mei 2013, sebuah berita yang cukup mengejutkan datang dari tanah suci umat Katolik, Vatikan. Paus Francis yang baru tiga bulan diangkat sebagai pemimpin umat Katolik sedunia, menggantikan Paus Benedict XVI yang mengundurkan diri, mengeluarkan pernyataan yang mengharamkan pemujaan terhadap uang (cult of money). Apa yang dimaksud oleh Paus Francis sebagai cult of money tersebut ternyata adalah sistem ekonomi global yang mendominasi dunia saat ini. Menurut Paus, sistem ekonomi global hari telah berkembang menjadi sebuah tirani yang menyebabkan orang kaya semakin kaya sementara orang miskin semakin miskin. Manusia tereduksi menjadi sekedar konsumer – lebih buruk lagi, menjadi sebuah komoditas. Etika dan nilai-nilai Ketuhanan pun terlupakan karena manusia lebih mengutamakan pemujaan terhadap uang. Walaupun Paus Francis tidak menyebutkan secara jelas sistem ekonomi mana yang ia maksud, namun media internasional sepakat bahwa sistem ekonomi yang dimaksud oleh Paus Franci...

Book Review: Bioteknologi dan Kapitalisme: Perubahan Makna Kehidupan Manusia

Image
Kehidupan merupakan hal yang paling esensial bagi manusia. Banyak cara digunakan untuk mempertahankan dan memperpanjang kehidupan yang ada. Kehidupan terus diupayakan untuk dapat direproduksi dan diregenerasi. Kecenderungan manusia yang menginginkan untuk terus hidup dan memiliki kehidupan sesuai dengan yang mereka inginkan secara tidak langsung memicu kehadiran bioteknologi sebagai salah satu alternatif solusi dari permasalahan tersebut. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan alam pun menjadi di luar batas imajinasi serta hukum keterbatasan dari alam itu sendiri. Tanpa disadari, ada beberapa hal penting yang luput dari perhatian manusia akan kehadiran bioteknologi itu sendiri. Bagaimana bioteknologi tersebut diciptakan? Atas dasar apa bioteknologi itu dipertahankan dan dikembangkan demi kehidupan manusia? Bagaimana prospek dan dampak dari bioteknologi itu? Oleh dasar pertanyaan tersebutlah maka penulis akan mengkomparasikan dan me-review dua buah buku yang menjawab te...