Calon dan Kriteria Negara Maju di Kawasan Asia (Kriteria 1: Penerapan Pasar Bebas)


Pada tahun 1680, Jean-Baptiste Colbert, Menteri Keuangan Perancis pada masa tersebut sedang berdialog dengan perkumpulan pebisnis Perancis. Ketika itu Jean-Baptiste bertanya pada para pebisnis tersebut, “Apa yang dapat saya lakukan untuk Anda?” Joel Le Gendre, perwakilan para pebisnis Perancis tersebut menjawab, “Apa yang dapat Anda lakukan untuk kami? Biarkan kami (Laissez-nous faire)!” Percakapan itulah yang menginspirasi Adam Smith untuk merumuskan sistem ekonomi laissez-laire dalam bukunya The Wealth of Nation, atau yang lebih dikenal dengan sebutan sistem pasar bebas.

Sistem pasar bebas adalah sistem dimana negara ‘tidak melakukan apa-apa’. Namun, dengan ‘tidak melakukan apa-apa’ bukan berarti bahwa negara menjadi pasif dan melupakan kewajibannya untuk mensejahterakan rakyat. Justru dengan ‘tidak melakukan apa-apa’, negara sedang melakukan tindakan aktif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Pertanyaan yang dapat muncul dari pernyataan ini tentu adalah, “Bagaimana mungkin bisa begitu?” Logikanya adalah seperti ini: sistem pasar bebas memiliki aksioma yaitu bahwa setiap orang akan bertindak rasional dalam kegiatan ekonomi. Ketika seseorang berupaya untuk memaksimalkan kepentingan pribadinya dengan pengorbanan seminimal mungkin, ia juga akan bertemu dengan orang lain yang serupa. Selama pertemuan ini tetap berjalan rasional, maka akan ada tangan tak terlihat (invisible hand) yang akan mengarahkan perekonomian negara pada suatu titik euilibrium dimana terjadi keuntungan bersama.

Akumulasi dari keuntungan bersama ini pada akhirnya akan menciptakan kesejahteraan bangsa atau apa yang disebut sebagai kekayaan bangsa (the wealth of nation). Syarat untuk mewujudkannya hanya satu, yaitu negara harus melakukan satu hal terhadap pasar: tidak melakukan apa-apa; biarkan saja; laissez-faire! Inilah logika sistem pasar bebas, sebuah logika yang menyatakan bahwa negara akan mampu memenuhi kewajibannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan cara menciptakan sebuah ruang dimana rakyat dapat bebas melakukan pertukaran barang dan jasa serta melindunginya dari intervensi apapun. Ruang yang dimaksud adalah pasar.

Dengan adanya sistem pasar bebas, maka warga negara akan diberikan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Mereka dapat memilih apakah mereka mau bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan lebih atau bermalas-malasan dan mendapatkan penghasilan sedikit. Semua itu terserah pada pilihan individu masing-masing. Namun, mereka akan menyadari bahwa ketika mereka bermalas-malasan, maka mereka akan kesulitan untuk mendapat penghasilan yang layak. Oleh sebab itu mereka akan bekerja keras dan bersaing dengan orang-orang yang bekerja keras lainnya. Persaingan tersebut akan memicu terjadinya peningkatan produktifitas yang akan mengarah pada kemajuan negara.

Namun bagi Kishore Mahbubani, yang terpenting adalah sistem pasar bebas memiliki kemampuan untuk membebaskan jiwa manusia. Lebih lagi, sistem pasar bebas juga mampu membebaskan manusia dari kemiskinan. Laporan dari World Economy Outlook pada tahun 2006 dan Bank Dunia pada tahun 2007 menunjukkan bahwa ratusan juta orang di Asia terbebas dari kemiskinan sebagai dampak dari penerapan sistem pasar bebas di kawasan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pasar bebas memang mampu untuk menjadi kriteria yang menentukan kemajuan suatu negara dengan cara meningkatkan kesejahteraan warga. Salah satu calon negara maju di Asia, yaitu China, telah berhasil membuktikan dampak positif penerapan sistem pasar bebas bagi negerinya.

Penerapan Sistem Pasar Bebas di China


China adalah negara dengan penduduk terbanyak di dunia, namun sebagai akibatnya China juga memiliki penduduk miskin terbanyak di dunia. Ketika Mao Zedong berkuasa pada tahun 1949, ia mencoba mengimplementasikan sistem ekonomi terencana yang dipelajarinya dari Uni Soviet untuk mengatasi masalah tersebut. Awalnya semua berjalan dengan sangat baik. Rencana Lima-Tahun Pertama (First Five-Year Plan) yang berlangsung dari tahun 1953-1957 berhasil meningkatkan rata-rata nilai tahunan industri dan agrikultur China masing-masing 19.6 dan 4.8 persen. Melihat kesuksesan tersebut, Mao pun berpikir bahwa China dapat melakukan hal yang lebih hebat lagi.

Mao kemudian meluncurkan kebijakan Lompatan Jauh Ke Depan (The Great Leap Forward) pada tahun 1958. Kebijakan tersebut gagal total. Beberapa statistik bahkan menunjukkan bahwa perekonomian China justru mengalami penurunan selama pengimplementasian Lompatan Jauh Ke Depan. Pada 1959 dan 1960, nilai bruto dari agrikultur China turun masing-masing sebanyak 14 persen dan 13 persen, dan pada 1961 nilai tersebut turun lagi sebanyak 2 persen mencapai titik terendah semenjak tahun 1952 (Lihat Tabel II).

Kegagalan kebijakan Lompatan Jauh Ke Depan banyak dikontribusikan oleh ketidakmampuan sistem ekonomi terencana memberikan insentif bagi warga China untuk bekerja dalam rangka memenuhi tuntutan yang diberikan oleh kebijakan tersebut. Kishore Mahbubani berhasil menangkap dengan baik perasaan warga China di bawah sistem ekonomi terencana dalam kunjungannya ke Beijing pada tahun 1980, ketika sistem pasar bebas belum diterapkan secara penuh.

Pertama, ketika Mahbubani berkunjung ke pencukur rambut di sana, dia mendapati bahwa pencukur tersebut terlalu berlama-lama mencukur rambutnya. Ketika Mahbubani bertanya pada sang pencukur, ia menjawab bahwa tidak penting ia mencukur sepuluh atau dua puluh kali. Ia akan tetap mendapat bayaran yang sama. Kedua, ketika Mahbubani bermaksud menggunakan Taksi yang berada di depan hotelnya, ia mendapati ada sepuluh buah Taksi dan sepuluh orang supir yang menantinya. Kesepuluh supir tersebut berdebat mengenai siapa yang mendapat giliran untuk bekerja selanjutnya. Sama seperti sang pencukur, tidak peduli berapa banyak orang yang mereka antarkan, mereka akan tetap mendapat bayaran yang sama.

Pengalaman Mahbubani tersebut menunjukkan bagaimana sistem ekonomi terencana yang diimplementasikan oleh Mao Zedong menyebabkan warga menjadi malas untuk bekerja, sehingga menurunkan produktifitas. Terbukti pertumbuhan ekonomi China terus menurun semenjak tahun 1966 (Lihat Tabel II).

Tabel II

Deng Xiaoping menyadari betul kesalahan dari sistem ekonomi terencana. Oleh sebab itu, ketika ia berkuasa ia meluncurkan kebijakan “Empat Modernisasi (The Four Modernization)” pada tahun 1978 yang memperkenalkan sistem pasar bebas kepada China untuk pertama kalinya. Dampaknya sungguh luar biasa. Pertumbuhan ekonomi China pun mengalami kenaikan secara perlahan-lahan semenjak kejatuhannya di tahun 1966 (Lihat Tabel I). Hari ini, kita telah melihat secara langsung dampak positif yang didapat oleh China melalui penerapan sistem pasar bebas. Hu Jintao, pemimpin China pada tahun 2002-2012 mengatakan bahwa China telah mengalami transformasi luar biasa yang belum pernah dilihat di negara tersebut. 

Dalam kurun waktu singkat selama 26 tahun dari 1978 sampai 2004, GDP China meningkat dari US$147.3 milyar menjadi US$1.6494 trilyun dengan rata-rata pertumbuhan tahunan mencapai lebih 9.4 persen. Perdagangan asingnya meningkat dari US$20.6 milyar menjadi US$1.1548 trilyun, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan mencapai lebih dari 16 persen. Cadangan mata uang asing China meningkat dari US$167 juta menjadi US$609.9 milyar. Jumlah orang miskin di daerah pedesaan merosot dari 250 juta menjadi 26 juta. Statistik-statistik yang disampaikan oleh Hu Jintao tersebut menunjukkan bahwa Lompatan Jauh Ke Depan yang direncanakan oleh Mao Zedong, secara ironis, justru terlaksana berkat sistem pasar bebas yang diterapkan oleh Deng Xiaoping.

Semua hal yang dijelaskan di atas menunjukkan bagaimana sistem ekonomi pasar bebas benar-benar berhasil membawa kemajuan bagi China. Jika Deng Xiaoping tidak menyadari kesalahan yang terdapat dalam sistem ekonomi terencana Mao, maka China tidak akan mendapatkan lompatan jauh ke depan-nya. Keputusan Deng Xiaoping untuk menerapkan sistem pasar bebas terbukti memberikan dampak positif bagi kemajuan China.

Comments

Popular posts from this blog

Organisasi Regional

Konflik-Konflik di Asia Selatan

Perkembangan Pendidikan di Vietnam

Perkembangan Hak Asasi Manusia di Tingkat Global dan Indonesia

Asumsi Dasar Liberalisme: Studi Kasus Konflik Laut China Selatan