Posts

Why I Hate my Job or How a Person Turned into Machine in Simple Steps

Image
It's kinda amusing how many things you can lost just by having a job. For instance, I can't find myself enjoying the process of writing anymore. This is due to my inability to find anything interesting to write about in the first place. Like seriously, everything I do is boring, and I have to do it everyday. I've got to the point where I can't write anything except my boredom to my situation. But even then, I can't really write it at all because boring life doesn't make a good story. So here I am, a freshly graduated IR student working in a big international organization, scrambling aimlessly at the keyboard in hope that I can write something meaningful, but I don't know. The more key I type, the more depressing this writing seems. But I don't want to stop, even if it's killing me. Knowing that I can at least write two paragraph makes me a bit relieved. I know that the writer in me is still there, waiting for the right moment to come out. I just...

Siapa Aku?: Ulasan Singkat Buku Asal Usul Kedaulatan

Image
Pernahkah kamu memandang cermin dan bertanya, "Siapa kamu?" pada sosok yang memandangmu dari balik kaca tersebut? Aku sering melakukannya, terutama akhir-akhir ini. Aku bisa bilang bahwa saat ini aku sedang berada pada titik dimana jati diriku telah terdefinisi dengan baik. Aku seorang laki-laki dewasa bergelar sarjana yang bekerja pada sebuah lembaga internasional ternama. Aku juga seorang kakak, seorang anak, seorang kekasih, seorang sahabat, seorang rekan, seorang gamer, dan sampai taraf tertentu seorang introvert. Aku mengenakan kemeja jeans seharga 300.000, sebuah celana bahan seharga 250.000, dan sebuah sepatu Pantofel seharga 2 Juta. Tidak terlalu mahal tapi juga tidak murah, ciri khas seorang kelas menengah pada umumnya. Ya, aku adalah seorang manusia pekerja kelas menengah. Semua identitas-identitas itu melekat padaku dan mendefinisikanku. Problemnya adalah, apakah benar itu adalah aku? Ambil seluruh pakaian yang melekat padaku dan suruh aku berjalan di tempa...

Capitalism, A Love Story: Perang melawan Kapitalisme

Image
Tulisan ini merupakan resume dari diskusi film Capitalism, A Love Story yang diadakan oleh HIMAHI Paramadina pada 20 September 2013 1,000 tahun setelah Imperium Suci Romawi runtuh, peradaban kita menilai peradaban tersebut sebagai peradaban yang mengkerdilkan manusia, membatasi ruang kreasinya, dan menindasnya habis-habisan. 1,000 tahun setelah peradaban kita runtuh, orang-orang di peradaban masa depan mungkin akan menilai peradaban kita sebagai sebuah peradaban yang bukan hanya menindas manusia, namun juga mengeksploitasinya habis-habisan demi kepentingan segelintir orang saja. Itulah kiranya pesan yang ingin disampaikan Michael Moore melalui film-nya yang berjudul Capitalism: A Love Story.

Memahami Aktor Non-Negara dan Permasalahannya

Image
Hubungan Internasional adalah sebuah studi sekaligus sebuah realita. Mereka yang mengaku akademisi HI adalah orang-orang yang berada di luar realita HI itu sendiri. Mereka memang membicarakan perdagangan bebas, namun tidak melakukan perdagangan bebas sama sekali. Jarak yang diciptakan oleh akademisi HI terhadap realita HI ini membuat tindakan mereka terbatas hanya pada melakukan ulasan, analisis, rekomendasi, atau kritik terhadap realita HI. Realita HI mensyaratkan adanya aktor karena HI tidak dapat berlangsung tanpa adanya aktor yang saling berinteraksi. Menurut sejarahnya, aktor yang pertama kali mempraktekkan HI adalah negara. Oleh sebab itu, akademisi HI generasi awal menyimpulkan bahwa Hubungan Internasional terjadi akibat interaksi antarnegara dan kompleksitas yang terjadi dalam interaksi tersebut. Akan tetapi, perkembangan ilmu HI menemukan bahwa negara bukanlah satu-satunya aktor yang berkontribusi terhadap HI. Ditemukanlah konsep aktor non-negara.

Blood Diamond: Refleksi KAA 1955 dalam Konflik Berdarah Berlian Sierra Leone

Image
Tulisan ini merupakan resume dari diskusi film "Blood Diamond" yang dilaksanakan oleh HIMAHI Paramadina pada 18 April 2013 18 April, 59 tahun yang lalu, sebuah konferensi yang dihadiri oleh 29 negara, yang mewakili lebih dari separuh penduduk dunia, digelar di Bandung, Indonesia. Pada pertemuan yang dinamai Konferensi Asia-Afrika (KAA) tersebut, Presiden Soekarno telah menyerukan kepada seluruh negara di Asia dan Afrika untuk menyatukan sikap melawan imperialisme Barat. Pada pertemuan tersebut, Indonesia telah menginjeksikan sebuah mimpi kepada bangsa-bangsa yang pernah tertindas bahwa mereka semua mampu menjadi bangsa yang besar, sejajar dengan negara-negara Barat yang pernah menindas mereka. Seharusnya, KAA dapat menjadi langkah awal untuk mewujudkan mimpi tersebut. Namun, 59 tahun telah berlalu, dan mimpi yang dibangun dalam KAA 1955 tetap menjadi mimpi. Pada hari ini, kita dapat melihat bahwa bangsa-bangsa Asia dan Afrika masih dilanda perpecahan. Di Asia, perpecaha...

100th Post: Just Some Rant to Celebrate this Awesomeness

Image
Aku tidak menyangka, blog Peaceful Anarchy sudah memiliki 100 post sekarang dengan total pageview sebanyak 22,489. Ini memang bukan pencapaian yang luar biasa jika dibandingkan dengan blog-blog yang lebih sukses lainnya, tapi ini sesuatu yang berarti bagiku. Aku sungguh ingin mengucapkan terimakasih pada semua yang telah mengunjungi blog ini, apalagi yang meninggalkan komentar. Semua itu memberikanku motivasi untuk terus mengisi blog ini dan juga memberi motivasi padaku secara pribadi untuk membuatku merasa sedikit berguna bagi orang lain haha. Blog ini kubuat empat tahun yang lalu, waktu itu aku sedang sangat tertarik pada dunia blogging setelah disuruh pacarku untuk mengisi blognya. I realized that blogging is really fun dan aku terpikir kenapa aku tidak coba membuat blog-ku sendiri. Aku belajar dari Raditya Dika, bahwa blog yang menarik adalah blog yang sangat personal dan berisi cerita-cerita lucu. Sayangnya aku bukan orang yang cukup terbuka untuk membeberkan kisah-kisah h...

Pasifik, Kawasan yang Tak Boleh Diabaikan

Image
Ketika Obama berkunjung ke Australia dan menyatakan akan menaruh armada militer AS di pangkalan militer Darwin, dunia terkejut, tidak terkecuali Australia yang menerima AS sewaktu itu. Australia pada dasarnya telah menjalin sejumlah hubungan yang baik dengan rekan kulit kuningnya, China, dalam sejumlah perjanjian dagang. Tercatat ketika itu ekspor Australia ke China jauh lebih besar daripada ekspor Australia ke AS.  Bagi Australia, menerima kehadiran militer AS di pantainya sama artinya dengan mengusir China, yang merupakan saingan AS, dari negaranya. Pun begitu, Australia tidak dapat menolak kebijakan AS tersebut karena AS, bagi Australia, merupakan sahabat lama yang telah banyak berjasa baginya. Kasus tersebut menunjukkan bagaimana negara Australia dan Pasifik menjadi objek perebutan kekuatan besar dunia. Suatu hal yang sebetulnya sudah terjadi semenjak lama.